Dialog Kopi: Takut

Ahh... rasanya selalu tidak siap jika harus bertemu lagi. Canggung? ya tentunya, karena takut dan malu pernah mengecewakannya. Terkadang berpikir apakah aku cukup baik untuk jadi temannya lagi. Tapi hari ini, mungkin Allah SWT sudah gariskan untuk bertemu kembali bersapa, sejujurnya sudah pernah ada kesempatan itu tapi aku memilih menghidarinya. Tidak lebih bukan karena aku membecinya tapi aku yang terlalu mengecewakannya, bahkan sejak hari itu aku menyesal sudah menyampaikan semuanya secara jujur kepadanya.

Hari ini beertemu dengannya, seorang adik yang tidak aku sangka menghampiriku dan berkata.

"Abang! apakabar? abang coba tebak, ada siapa? abang gak mau ketemu mbak?"

Seketika rasa takut dan malu itu datang lagi. Ya aku hanya menyeletuk

"Nanti aja, biar ketemu secara natural aku belum siap untuk dengan segaja untuk bertemu dengan mbak", dalam hati hanya berpikir untuk menghindar lagi dna bersembunyi.

Sejak email terakhir yang aku dapat darinya, seketika semua rasa takut, malu dan kecewa pada diri sendiri ini kian tebal menyelimuti kala ada kesempatan untuk bertemu lagi. Bahkan aku terkadang iri kepada mereka yang mungkin cukup sering mendapat email darinya. Ya aku tau dari celetukan mereka, bahkan mungkin tak ada yang tau bahkan sosial media dan contactku sudah di hide dan block olehnya. Aku tak lagi berharap akan mendapatkanya seperti yang lain.

Bahkan aku selalu bertanya kepada Allah SWT:

"Ya Allah, masih mungkinkan aku bertemu dengannya lagi atau hanya sekedar mendapat email darinya lagi? sekedar teman atau bahkan bertukar cerita seperti yang lainnya? atau mungkin tak akan pernah bertemu lagi kah? Semoga Engkau senantiasa menjaganya dan memberikan banyak hal baik untuk dia. Jika suatu hari itu masih ada, tolong jadikan aku pada versi yang baik dan pantas untuknya. Tapi jika tidak, biarkan kita bertemu kembali selayaknya sahabat. Bukan seperti yang sekarang, penuh kecanggungan"

Ya setiap kali mereka bertanya dengan nada candaan dan ledekan itu, aku hanya tersenyum seolah aku masih mengetahui semuanya tentangnya. Aku sadar aku masih harus banyak belajar, jika aku memang ingin serius mungkin aku harus banyak berubah jadi lebih baik. Jika ditanya, mungkin aku masih berharap bisa bercerita lagi sama dia. Walau hanya sekedar temen biasa seperti pertama kali bertemu dan seperti yang lainnya. 

Pertemuan kemarin setidaknya membuat aku bahagia, bisa sedikit bercengkrama dan sedikit menyapa. Maaf kalau aku sedikit takut menyapa tapi aku terlalu kecewa pada diri sendiri pernah menyakiti hatinya. Jika bisa kembali, aku mungkin hari itu memilih untuk diam dan tak pernah mengungkapkannya. Terima kasih ya sudah menyapaku duluan, maaf sekali lagi untuk semua masa lalu yang mengecewakan itu.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------A, Bogor, 15 Desember 2025 | 18.20 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Dialog Kopi: Kenapa suka lari?

Dialog Kopi: Selamat Ulang Tahun ya

Dialog Kopi: comes and ends Ramadan