Rintih Hujan: Semua tempat ada cerita
"Aku tak ingin menyalah apapun, semua yang terjadi selama ini akulah yang menjadi pemerannya, aku yang memilih semuanya. Tapi apapun itu setiap tempat selalu punya ceritanya"
Aku terduduk di sofa dalam ruangan studio yang sudah menjadi tempat favoritku—tempat tidur dikala malam datang dan menghampiri. Selembar dan beberapa lembar halaman buku terkadang menjadi penghantar—pengiring menjelang mata ini mulai lelah dan memerah. Malam yang kian terasa dingin terkadang terasa hangat yang menyelimuti, dibalik semua itu begitu banyak kalimat yang berulang kali seolah berbisik kepadaku.
"Coba aja dulu kamu gak pernah cerita semuanya, mungkin sekarang kamu masih bisa ngobrol dan cerita-cerita sama dia"
"Tuhkan, benarkan, coba aja dulu jadi pengagum dalam diam jus. Gak ginikan jadinya"
"Sekarang mau apa Jus? sekarang hanya bisa melihat semua ceritanya dari postingan sosial medianya ajakan? atau hanya dari sekilas cerita mereka ajakan"
Berharap suatu hari nanti akan bisa kembali bercerita dengannya lebih banyak mungkin adalah hal sederhana yang sering kali menjadi part yang aku pikirkan. Senyap malam terkadang menyelimuti harapan itu, seolah perlahan hilang dalam hening bersama suara jangkrik-jangkrik yang kian bernyanyi menemanimu malam ini.
Hari ini aku tak pernah melihat lagi foto profilnya dibalik kontak yang tersimpan dalam ponselku ini. Aku mengerti dan tak akan pernah mencari tau jawaban itu, tapi aku hanya ingin kembali ke masa lalu dan hanya ingin menjadi pengagum dalam diam yang sebenarnya. Terperangkap dalam rasa salah yang sampai hari ini mungkin masih sering mengusik, seolah tak pernah berhenti untuk menanti jawab dariku.
"Hei, Jus! lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang?"
Ya, pertanyaan yang sampai hari tak pernah sepenuhnya terjawab olehku. Ribuan kali aku membukan kontaknya dan mengetik kata yang sama "maaf" hanya berharap menanti semuanya akan baik-baik aja seperti yang lalu. Tapi semua pesan itu tak pernah terkirimkan, aku terlalu takut untuk melakukannya. Akhirnya, semua kalimat-kalimat itu hanya akan terus berkecamuk dalam pikiranku ini.
Disudut jendela KRL—kereta listrik yang akan selalu melintasi rumahnya, tidak tepat didepan rumahnya hanyak melintasi daerahnya. Tak jauh dari stasiun itu, jalan dan simpang rumahnya yang masih terlintas jelas dalam pikiriku ini.
"Huft..." aku hanya terdiam dalam senyum tipis setiap kali aku melihat nama stasiun itu. Berharap dibalik jendela itu ada yang melambai dan menyapaku darisana. (....... soon)
----------------
Satu hal yang aku pahami, aku belum selesai pada diriku sendiri. Bukan aku tak ingin memperjuangkannya, tapi masih ada yang perlu ku selesaikan pada diriku sendiri saat ini. Perjuanga itu tak akan pernah berhenti, tapi aku tak akan pernah menyalahkan takdir jika semuanya akan berbeda akhir. Pada akhirnya semua kembali kepada-Nya, aku hari ini dan esok selalu akan mendoakan yang terbaik untuknya. Lantasa mungkin saat ini, jalan terbaik untukku adalah belajar untuk jadi lebih baik, suatu hari jika waktunya pasti akan kembali bertemu dengan baiknya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------A, Bogor, 29 Desember 2025 | 10.07 WIB
Comments
Post a Comment