Dialog Kopi: Cerita 28 tahun

28 mungkin hanyalah sebuah angka, tapi nyatanya semakin banyak tanggung jawab ada pada pundak ini untuk terus dan harus tetap kokoh. Kala lelah hanya bisa dirasakan untuk diri sendiri, bagaimana hati ini haru tetap bahagia. Nyatanya tidak akan pernah ada akhirnya. Kelak senyum itu pernah tertimbun dalam sedih dan renung takut, kelak akan menjadi apa dan seperti apa. 

Beranjak semakin menua kata mereka, tapi wajah ini sering membuat mereka tak percaya dan meninggalkan ragu dihadapan mereka. Masih seperti anak yang layaknya baru akan dewasa, kumis tipis dan wajah yang masih terlihat seperti 18 tahun lalu. Kata mereka tak ada perubahan, hanya potongan rambut dan seleranya saja yang semakin menua.

Tapi...

Doa mereka yang selalu menguatkan, mengingatkan untuk bahagia. Belajar untuk tidak mencari validasi dan menjadi diri sendiri yang menikmati setiap karya. Kita sudah punya garis, kita yang menentukannya dengan semua kapasitas yang ada.

Kelak, esok akan datang menjadi cerita dalam catatan semu kian nyata. Esok masih dalam pencarian yang tiada habisnya, mencari setiap cinta dan cita dalam barisan mimpi yang tiada akhirnya. Jadi lebih baik, bukan sekedar mimpi belaka dan bukan hanya tentang materi untuk sebuah kenyamanan.

28 tahun, sudah menjadi sakasi transisi banyak cerita tentang pergantian singgasana negera ini. Negara ini kian memaksa seperti itu, materi sering kali menjadi pembeda cerita. Bahkan mereka yang arogan semakin terlihat kokoh di singgah sananya. Pewaris itu benar adanya, perintis akan terurs terlahir untuk sebuah tanda dalam sebuah garis. Garis sebuah pengakuan.

Kemarin...

Buyah tak sekalipun menuntutku untuk menjadi apa, bahkan tak pernah sekalipun menuntut untuk sebuah balas budi. Tapi, mencari ridhonya selalu menjadi hal penting dalam garis hidup ini. Hiruk pikuk kota itu tak akan ada habisnya, perputaran waktu dan tuntutan akan terus menggerus tanggung jawab kepada-Nya.

Lalu, apa yang kita cari? 28 tahun sudah, belajar untuk lebih dekat dengan-Nya dan mencari setiap ridhonya. Pasang surut dalam kesibukan dunia, menjadi cerita yang selalu Allah saksikan dalam kekusyukan kita. Jika pernah hadirnya seseorang dan membawa cerita dalam sebuah utas perubahan untuk kita, percayalah itu adalah part dalam cerita baik-Nya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

A, Bogor, 8 April 2025 | 07.39 WIB


Comments

Popular posts from this blog

Dialog Kopi: Kenapa suka lari?

Dialog Kopi: Selamat Ulang Tahun ya

Dialog Kopi: comes and ends Ramadan