Dialog Kopi: Dering telepon diujung nada
Malam ini engkau masih bisa bermimpi indah, berkelana dalam fana yang terkadang tak ada arahnya. Dering telepon diujung nada itu, tak pernah terdengar lagi suara itu yang selalu mengingatkan walau hanya sekedar menyapa. Sudah sangat lama sejak saat itu, sudah tak berani lagi membuka pintu untuk semua yang hadir sejak hari itu datang dan pergi meninggalkan semua cerita.
Kini,masih banyak yang tak terucap, masih banyak yang harus ku perjuangkan, masih banyak doa yang ku titipkan kepada semesta. Walau dunia tak seindah awan diujung sana, tolong sampaikan doa dan ceritaku ini untuknya.
Lilin kecil yang menerangi ditengah gelap ruang, menjadi teman dalam sunyi menanti mentari benar-benar tenggelam. Hari itu, sajak-sajak itu masih terangkai dan terurai sendu. Senja merona dalam hati yang masih berkelana menata banyak hal dalam cerita penuh haru dalam semu seirama.
Jika pada akhir cerita, bukan akhir yang diharapkan tapi hati ini pernah belajar menjaga sebuah janji dan berulang kali menata hati. Terlihat banyak cerita baik yang berirama dalam alunan baik yang terjalin darinya. Wlalau masih ada harap menunggu kabar sapa darinya, walau pada akhirnya memang tak akan pernah lagi kunjung datang lagi (saat ini).
Tak akan mudah, tapi senja merona yang terbiasa menjadi jingga indah walau terkadang redup dalam sajak-sajak yang terurai dalam sendu dan fana. Dan bila dunia sudah tak lagi seindah awan diujung sana, dering telepon yang tak pernah terdengar. Titip doa untuk semua cerita baik darinya dulu untuk semua hal baik dan kisahnya kini.
"Maaf, karena aku masih harus berjuang sampai ujung senja jingga ini, masih banyak yang tak sempat terucap dengan tulus. Diujung langit sana, masih terdengar semu tentang kisahmu dari mereka. Doa yang ku titipkan untuk semua hal baik darimu dulu"
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
A, Bogor, 11 Februari 2025 | 21.02 WIB
Comments
Post a Comment