Dialog Kopi: Akhirnya, titik lainnya
Akhirnya, perjalanan ini satu per satu sampai pada titiknya
Sempat ingin mundur dan gugur—menyerah seolah tak lagi mampu. Tapi pundak ini masih mengemban banyak cita dan harapan dari mereka yang tiada habisnya. Apakah menyerah adalah sebuah alasan? atau hanya sekedar rasa takut dan rapuh karena ketertinggalan.
Hari itu, kini dan esok akan terus terhubung. Tertinggal bukan akhir tapi sebuah catatan untuk perlahan menuntaskannya. Tak mudah, tapi akhir akan selalu ada awal. Hari ini cita itu barulah dimulai, mungkin kekecewaan yang lalu akan membuatnya lebih kuat. Terbentur, berulang kali mencoba untuk tumbuh dan lebih baik.
Perlahan mencoba untuk menyelesaikannya, perjalanan menuju titik berlabuh bukan hanya sekedar mengukir cinta dan cita. Rawut wajah kecil itu tak lagi sama, kini sering mengkerut melihat setiap daftar cita yang gugur dan melebur.
Langkah kecilnya yang dulu masih tertatih, kini langkah itu mulai berlari dan kadang kala sekedar melewati setapak-setapak dan semak belukar menuju puncak. Tak ada yang pernah memahaminya dengan cukup baik, kadang masih sering tak pernah dipahami dan salah memahami.
Melebur, mengukur dan merajut semuanya. Walau tak pernah sama dengan mereka bahkan tak dianggap sama. Kini barisan harapan itu perlahan menjadi doa. Merajut satu persatu meninggalkan sedikit harapan tak terganti. "Menepati janji, menata hati" bukan sekedar harapan tapi lebih dari itu, selalu akan ada alasan bukan untuk pergi.
Terima kasih untuk apapun itu karena perahu akan terus belayar, singgah bukan sekedar menyandar, Perjalnan untuk menapatinya, memahami setiap hati dalam perjalan yang hadir.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
A, Bogor, 2 Desember 2024 | 21.58 WIB
Comments
Post a Comment