Dialog Kopi: Cerita 28 tahun
28 mungkin hanyalah sebuah angka, tapi nyatanya semakin banyak tanggung jawab ada pada pundak ini untuk terus dan harus tetap kokoh. Kala lelah hanya bisa dirasakan untuk diri sendiri, bagaimana hati ini haru tetap bahagia. Nyatanya tidak akan pernah ada akhirnya. Kelak senyum itu pernah tertimbun dalam sedih dan renung takut, kelak akan menjadi apa dan seperti apa. Beranjak semakin menua kata mereka, tapi wajah ini sering membuat mereka tak percaya dan meninggalkan ragu dihadapan mereka. Masih seperti anak yang layaknya baru akan dewasa, kumis tipis dan wajah yang masih terlihat seperti 18 tahun lalu. Kata mereka tak ada perubahan, hanya potongan rambut dan seleranya saja yang semakin menua. Tapi... Doa mereka yang selalu menguatkan, mengingatkan untuk bahagia. Belajar untuk tidak mencari validasi dan menjadi diri sendiri yang menikmati setiap karya. Kita sudah punya garis, kita yang menentukannya dengan semua kapasitas yang ada. Kelak, esok akan datang menjadi cerita dalam catat...